Suatu hari saya pernah membaca sebuah kalimat yang indah sekali.
Allah punya 3 pilihan jawaban atas setiap doa kita.
jawaban yang pertama adalah : Ya.
jawaban yang kedua adalah : tidak.
jawaban yang ketiga adalah : Aku punya sesuatu yang lebih baik daripada yang kau minta.
pernah gak sih, dalam berdoa kita selalu ngotot? sengotot kita saat meminta sesuatu pada orangtua kita?
Alhamdulillah. Saya pikir doa saya pernah dijawab oleh tiga pilihan jawaban itu. Tapi dari 3 jawaban itu, saya paling suka yang terakhir.
Kenapa?
Karena Allah tau apa yang terbaik buat saya. Sementara saya taunya hanya minta, minta dan minta tanpa berpikir panjang. Allah tau apa yang akan terjadi dengan permintaan umatnya yang ceroboh dan berakal pendek. Like a director of a movie-yes, our life is a movie itself-God always knows the ending of our hope.
Waktu SMA saya pernah berdoa dengan sangat ngotot bahwa saya harus masuk IPA. karena desakan keluarga yang masih percaya bahwa hanya orang2 dari jurusan tersebut yang punya masa depan cerah nan bahagia. Tapi apa hasilnya?
Saya divonis masuk IPS. Sedih bukan karena si IPS-nya. Tapi sedih karena keluarga saya terlihat kecewa dengan kenyataan itu. Saya merasa sangat bersalah. Tak Berguna. Kelabilan anak SMA kala itu.
And the story goes…Saya menjalani kehidupan IPS saya dengan sangat nyaman karena kemampuan menghapal yang lebih menonjol daripada hitungan eksak yang menurut saya abstrak dan memusingkan. Terseok-seok, tapi alhamdulillah bisa survive.
Permohonan terbesar saya yang kedua adalah saat saya ditawari formulir PMDK UI. Seperti tokoh di game, saya seperti mendapat nyawa tambahan. Saya berdoa dengan penuh permohonan karena saya tidak ingin mengecewakan orangtua lagi. Please God, yang ini harus GOAL!
Tapi harapan saya kembali pupus.
Kecewa? JELASLAH! UI gitu loohh.
Sekarang, tahun 2011, saya sudah berdiri di tingkat 4, di penghujung masa-masa kuliah S1. Sering berpikir flashback, merenungkan apa-apa saja yang pernah saya raih, dan kesempatan demi kesempatan yang pernah saya jalani.
Coba deh, sesekali kalian ingat kepingan-kepingan kejadian di masa lalu. Susun dan hubungkan dengan keadaan kalian sekarang. Demi Allah, kalian akan jumpai hidup sebagai sebuah mozaik. semuanya saling berhubungan, semua kejadian pahit di masa lalu bisa berbuah manis di masa sekarang. (contohnya saat saya menelan kekecewaan karena di paskibra hanya dapat tugas baca2 teks pas upacara. saya tidak dapat jadi satu dari 3 org pengibar bendera karena postur tubuh yang kurang ideal. Tapi suara diagfragma khas protokoler itu sangat berjasa menyelamatkan saya saat audisi MC wisuda di kampus. See? life is puzzle. life is mozaic.).Kata seorang rekan, saat kita sukses meraih sesuatu dan sedang dalam kesenangan,kebanggaan yang amat sangat. Ingatlah dirimu di masa lalu. Ingat siapa-siapa aja orang yang pernah berperan besar di hidup kita, dan jangan lupa, ingat pada sang pencipta yang telah menulis skenario hidup kita dengan sangat apik.
Percaya deh, gak akan ada niat untuk sombong dan besar kepala.
Btw, setelah bertahun-tahun lamanya, saya baru tahu jawaban Allah atas ‘doa-doa ngotot’ saya waktu SMA dulu.
The answer isn’t : NO WAY.
But,
I HAVE SOMETHING BETTER IN MY MIND. IT’S BETTER FOR YOU, INTAN.
Alhamdulillah.