Jyoti, Gadis Mini berjiwa besar

Jyoti, Gadis Mini berjiwa besar


Ada yang pernah mendengar nama Jyoti Amge?

Yup, dia adalah gadis terkecil di dunia dari Nagpur, India.

Belakangan ini saya jadi tertarik dengan kisah remaja asal india itu sejak menonton tayangan dokumenter di metro tv. Bukan hanya dari segi keunikan bentuk tubuhnya yang nyaris sama dengan bayi 13 bulan, tapi banyak sekali sisi lain kehidupan yang bisa saya lihat disitu.

“Ada gadis mini di India..”
Begitu kata ibu saya sambil melihat ke layar tv. Saya hanya melirik sekilas. Ah. Apa istimewanya? Di Indonesia juga kan banyak. Ada ucok baba, dan orang-orang bertubuh mini lainnya yang sering muncul di layar tv. Kenapa harus seorang gadis bernama Jyoti??


Rupanya saya salah. Seorang Jyoti memang sangat mungil tubuhnya, jauuuh lebih mungil dari ucok baba sekalipun. Tapi saya melihat ada sesuatu yang besar di dalam tubuh kecil itu.

Adegan dimulai dari kegiatan sehari-hari Jyoti. Pagi hari ia bersekolah seperti biasa. Ia mandi, lalu duduk manis untuk diatur rambutnya.

“Jyoti punya model dandanan rambut yang berbeda-beda di setiap kesempatan. Untuk sekolah seperti ini, untuk pesta dan bermain beda lagi..” kata sang kakak sambil menguncir rambut panjang Jyoti. Jyoti juga sangat menyukai fashion, dan punya seabrek setelan pakaian khas india yang berwarna-warni dan berukuran mungil tentunya. Tak lupa dengan aksesorisnya, yah…selayaknya remaja yang sedang senang-senangnya mengeksplorasi penampilan. Selesai berdandan, Jyoti menyandang tas ransel pink-nya yang nyaris membuat tubuhnya tenggelam, lalu dengan wajah sumringah ia pun pergi sekolah diantar kakak laki-lakinya dengan motor.

Jyoti sekolah di sebuah sekolah menengah. Dan ia terlihat tidak canggung berbaur dengan teman-temannya yang terlihat seperti raksasa baginya. Ia juga tetap memperlihatkan antusiasme yang tinggi walau harus belajar di kursi dan meja khusus, terpisah dari teman-temannya.

Gadis kelahiran 16 Desember 1993 itu sangat gemar menonton film. Sepulang sekolah, jika sedang tidak ingin bermain di luar ia akan menghabiskan harinya dengan menonton film-film india di televisi. Sangat menggemaskan melihat ekspresinya saat melihat aktor-aktris india di layar kaca itu menari-nari sambil bernyanyi.

“Saya ingin menjadi seperti mereka. Bermain film sepertinya menyenangkan.” Katanya mantap. Oya, sebelumnya Jyoti juga pernah muncul dalam video clip penyanyi India, kalau tidak salah namanya Mika. Dan ia sangat senang bisa merasakannya. Itu adalah pengalaman luar biasa. Keterbatasan fisik rupanya tak membuat Jyoti malu dan ia merasa enjoy bisa muncul di banyak media.

Lalu adegan beralih ke persiapan pesta ulang tahunnya yang ke-16. Semua orang di rumahnya sibuk ini-itu. Jyoti, dengan segala keterbatasannya juga ikut andil dalam persiapan pestanya sambil berceloteh riang seperti anak kecil. Jyoti suka pesta, dan pesta ulangtahunnya memang selalu diadakan semarak dan meriah.

Jyoti adalah pusat perhatian di rumah itu. Oh, mungkin di seluruh kota juga. Karena di pestanya, Jyoti yang tampil manis dengan pakaian warna terang itu kedatangan banyak tamu dan dapat banyak hadiah. Dia sama sekali tidak marah saat beberapa tamunya mencubit pipinya karena gemas, atau memperlakukannya seperti anak kecil. Dia hanya tersenyum lebar, duduk di depan kue ulang tahunnya yang sangat besar, sambil sesekali menerima telepon dari teman-temannya yang mengucapan selamat ulangtahun. Seolah tak ada yang salah dengan dirinya, walaupun ia tahu itu sama sekali tidak benar.

Jyoti mengalami stagnansi pertumbuhan saat ia menginjak usia 5 tahun. Semakin dewasa, tubuhnya semakin bermasalah, terutama pada kakinya. Atau lebih tepatnya, pada struktur tulang penopang tubuhnya, Itulah yang sejak awal menghambat pertumbuhannya. Ia sering merasa sakit saat berjalan dalam jarak yang jauh. Dokter Sony, dokter ortopedi yang sering didatangi Jyoti meronsen kaki mungilnya, dan tampak jelas patahan tulang di tempurung kaki kirinya melebar dan rapuh. Setiap ia bergerak, patahan itu ikut bergeser dan itulah yang membuat terasa sakit. Hal ini sudah berlangsung lama, dan orangtua Jyoti pun akhirnya bersedia melakukan operasi. Rencananya akan dipasang semacam pen pada tempurung lututnya untuk penyeimbang, dan ini akan membuat Jyoti terlihat lebih tinggi beberapa senti.

Jyoti terlihat ceria seperti biasanya saat beristirahat di rumah sakit. Ia menjalankan puasa sebelum operasi dan tetap cerewet mengomentari segala sesuatu. Jyoti pun banyak dikerubungi pengunjung rumah sakit dan diminta foto bersama. Berada di luar rumah, bagi Jyoti layaknya seperti jumpa fans.

Tapi aura positif di dirinya langsung merosot drastis saat pagi menjelang, dan beberapa perawat datang hendak mengambil darahnya. Saat itu juga rumah sakit menjadi neraka baginya. Jyoti menjadi pucat, dan ketika jarum besar itu ditusukkan ke tangannya, ia sontak menangis meraung-raung. Histeris.

Sementara perawat terus memompa tangannya. Beberapa kali mengalami kesulitan karena urat nadi Jyoti begitu kecil, dan pengambilan darah tidak bisa dilakukan secara kilat seperti orang biasa. Butuh 5-10 menit untuk mendapatkan darah yang cukup. Dan itu sangat menyiksanya. Orangtua Jyoti marah dan kasian melihat anaknya kesakitan seperti itu, mereka langsung menghentikan perawatan dan memutuskan untuk membawa Jyoti pulang.

“Kami menyesal kenapa mengikuti saran dokter. Padahal keberhasilan operasi Jyoti sangat kecil, dan sangat beresiko untuk keselamatan nyawanya. Lebih baik ia kami rawat saja di rumah…” Begitu kata ayah Jyoti dengan wajah kesal karena Dokter Sony terus membujuk agar Jyoti melanjutkan perawatannya yang tinggal setengah jalan lagi. Sebelumnya, kedua orangtua Jyoti memang ragu. Karena pihak rumah sakit di India memang belum pernah mengoperasi gadis sekecil Jyoti. Mereka tidak bisa menjamin operasi Jyoti 100% akan sukses.

“Itu pertama kalinya saya disuntik. Saya tidak mau lagi. Sampai sekarang tangan saya masih terasa sakit!” katanya sedih. Keesokannya, Jyoti yang masih shock dan trauma dengan rasa sakitnya dibawa ke pedesaan. Kabarnya ada dukun manjur yang mampu mengobati masalah Jyoti tanpa sakit sedikitpun. Sesampainya disana,kaki Jyoti diolesi minyak dewa, lalu dilapisi dengan ramuan herbal dan diperban. Sang dukun menjanjikan Jyoti akan sembuh sampai pengobatan ketiga.

Tapi, apakah benar Jyoti bisa sembuh?

Saya sendiri juga tidak tahu, karena tayangan berdurasi 60 menit itu berakhir tanpa terasa.

“ I am proud of being small. I love all the attention I get. I’m not scared of being small and I don’t regret it. I’m just the same as other people. I eat like you, dream like you. I don’t feel any different.”

Itu pesan terakhir Jyoti Amge yang sangat menyentuh. Saya jadi sadar, betapa pentingnya rasa bersyukur dan harus berjiwa besar atas segala takdir yang diberikan Tuhan. Karena itu semua pasti terbaik buat kita kan?

(based on my own article in warta-warga)

3 Responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s