Warung Bakso Pak Min, Jejak Sukses Manajemen Kekeluargaan

Sejak saya berumur 5 tahun, kami sekeluarga sudah hijrah ke daerah asri nan bersahabat di selatan Jakarta, Pasarminggu. Sejak itu pula saya telah merasakan lezatnya hidangan bakso di sebuah warung kecil yang dulu hanya dibangun dari bambu-bambu kusam tak menarik. Walaupun tampilannya kumuh, warung bakso tersebut telah lama menyedot perhatian orang. Tidak hanya masyarakat di sekitar situ, tapi juga para pendatang dari luar daerah yang kebetulan mampir dan akhirnya selalu menyempatkan diri untuk datang lagi.

Warung bakso Pak Min punya kenangan tersendiri bagi saya. Dulu, saya sering diajak makan disitu, bersama para sepupu. Menyantap kremesan ubi merah atau kerupuk pangsit gurih sambil menunggu pesanan datang. Almarhum paman saya sangat mengenal baik sosok Pak Min, dan beliau pula yang merekomendasikan warung sederhana tersebut kepada kami sekeluarga.

Kini, 14 tahun berselang, saya sudah duduk di bangku perkuliahan. Berkunjung ke warung bakso tersebut tidak lagi sesering dulu. Paling-paling hanya sebulan sekali, itu pun lebih sering dibungkus untuk makan di rumah. Meskipun begitu, wajah-wajah ramah di balik panci yang mengepulkan aroma kaldu itu tetap sama. Tak banyak berubah.

Warung  Pak Min yang pertama. Sepertinya butuh lahan parkir yang lebih luas

Warung Pak Min yang pertama. Sepertinya butuh lahan parkir yang lebih luas

Dan pada suatu siang, saya merasa sangat beruntung karena berkesempatan untuk mendengar kisah dan kunci di balik kesuksesan warung bakso tersebut. Jujur saja, sebuah warung sederhana yang mampu bertahan lebih dari 10 tahun, bagi saya itu bukan hal mudah. Sebenarnya orangtua saya tahu sedikit cerita tentang sejarah warung tersebut. Tapi…rasanya kurang afdol kalau tidak bertanya langsung pada ‘sang saksi sejarah’.

Sayangnya, siang itu saya tidak bisa bertanya langsung pada Pak Min (panggilan sehari-hari Pak Wagimin), pendiri warung bakso paling legendaris di Pasarminggu itu. Tapi untungnya ada Pak Sutiman, selaku ‘vice president’ (sebut saja begitu. Karena sejak kecil saya paling hapal dengan wajahnya yang tak pernah berubah.).
Siang itu Pak Sutiman menghidangkan dua mangkuk mie ayam bakso untuk saya dan ibu, lalu mulai menceritakan sejarah warung tersebut. Jika ia sesekali mengerutkan kening untuk berusaha mengingat kembali setiap detil yang saya tanyakan, saya malah mulai curi-curi pandang ke arah mie ayam bakso hangat, target makan kami siang itu (nyam,nyaaam!). Sementara Ibu mulai asik makan sambil ikut mendengarkan dengan antusias.

Ternyata semua ini berawal dari sebuah gerobak. Dulu, Pak Wagimin berdagang bakso dan mie ayam dengan gerobak, dan selalu mangkal tepat di depan warung bakso ini (dulu masih rumah biasa, sebelum disewakan kepada Pak Wagimin untuk berjualan.). Beliau benar-benar memulai usahanya dari nol, dibantu Pak Sutiman, saudara sepupunya yang diajak merantau dari kampung.

“Wah, itu sudah lama sekali, Dek. Waktu itu gilingan daging belum ada. Wong harga semangkuk bakso saja masih Rp 250,-…” kata Pak Sutiman. Ia pun melanjutkan, ternyata keuletan dan kesabaran mereka berbuah baik. Setelah tabungan terkumpul, Pak Wagimin menyewa rumah yang kemudian disulap menjadi warung bakso. Sampai sekarang, walaupun mengalami jatuh bangun karena dampak krisis dan isu-isu tak sehat soal daging sapi, tahun 1999 Pak Wagimin telah membuka cabang di depan jalan raya Pasarminggu, kira-kira 500 meter dari warung pertama yang terletak di areal pemukiman warga.

Warung cabang yang sangat berpotensi. Dan ia terus membenahi diri

Warung cabang yang sangat berpotensi. Dan ia terus membenahi diri

Saat di tanya soal tenaga kerja, Pak Sutiman langsung menjawab dengan mantap, “Semua yang kerja disini adalah keluarganya Pak Min.” Wah, mendengar itu saya pun jadi semakin antusias untuk bertanya-tanya lagi. Menurutnya, sebelum Pak Wagimin membuka cabang, Lelaki kelahiran Karanganyar, Solo itu memperkerjakan 15 sanak saudaranya. Tapi sekarang yang mengurus warung induk hanya 5 orang, sementara sisanya dioper ke warung cabang yang lebih ramai karena letaknya sangat strategis.

Sebagai ‘senior’ di warung tersebut, Pak Sutiman mengakui kecil kemungkinan untuk merekrut tenaga kerja dari luar keluarga. “Kalau sama keluarga sendiri kan enak, sudah kenal baik, lebih terbuka. Kalo narik orang luar takut gak cocoklah, gajinya kurang gedelah.” Selain itu, alasan lainnya adalah Pak Wagimin ingin melatih orang-orang terdekatnya dalam berwirausaha, sekaligus membuka lapangan pekerjaan dan membasmi pengangguran dalam skala kecil. Ya, kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Selama ini warga pedesaan seringkali dinilai tidak mengantongi keahlian dan ketrampilan menjanjikan karena kurang pengalaman dan tidak adanya keberanian untuk mencoba. Dan ternyata, sejak awal mula usaha ini berdiri, Pak Wagimin memang tak pernah memperkerjakan orang luar. 100% keluarganya sendiri.

Lagipula, walaupun sudah bekerja selama bertahun-tahun lamanya, mereka tidak merasa jenuh karena kebersamaan telah membuat mereka semakin solid. Apalagi Pak Wagimin memperlakukan saudara-saudaranya sebagai partner kolektif, dan senantiasa menjaga komunikasi agar tidak terjadi pengendapan masalah.

Selain itu, Pak Wagimin juga memberikan banyak kompensasi dan fasilitas. Setelah mendengar penuturan Pak Sutiman, saya jadi teringat pada dua jenis kompensasi yaitu, kompensasi yang bersifat finansial, dan non finansial. Ternyata sistem itu berlaku secara alami dalam usaha ini. Secara finansial, setiap bulan karyawan menerima gaji tetap plus bonus uang harian yang dibagi rata dari kelebihan omset setiap hari setelah warung tutup. Ada tunjangan hari raya pula, sebesar 1 bulan gaji.

Sedangkan sisi non finansialnya adalah penyediaan fasilitas dan kenyamanan dalam bekerja. Layaknya usaha kebanyakan, Pak Min memperbolehkan karyawannya pulang kampung saat lebaran. Selain itu, ia juga menyediakan rumah khusus sebagai tempat tinggal karyawan sehari-sehari, tak jauh dari lokasi warung. Sehingga mereka tidak membutuhkan biaya transport yang besar dan sangat mudah dalam bermobilisasi.

Menurut Pak Sutiman, perputaran tenaga kerja (turnover) di warung ini sangat jarang terjadi. Mereka adalah tim yang kompak bekerja bertahun-tahun. Memang ada beberapa pekerja yang mengundurkan diri dengan beragam sebab. Misalnya karena faktor usia dan kesehatan, merasa lebih nyaman bekerja di kampung, ingin mengelola sawah keluarga, sampai harus menggantikan pekerjaan orangtua. Pak Min pun tak kalang kabut karena hal ini, karena ia masih bisa mempekerjakan anggota keluarganya yang lain, terutama kaum muda. Yah, hitung-hitung proses regenerasi.

Ketika ditanya soal kendala pekerjaan, tiba-tiba Pak Sutiman tersenyum. Ia menjawab, jam kerja mereka sangat panjang dan cukup melelahkan. “Kalau dihitung dari proses produksi bakso, kita udah kerja dari jam 5 subuh sampai jam 8 malam…begitu setiap hari.” Tapi meskipun begitu, ia tak menyangkal bahwa tidak jarang warung tutup sebelum jam 8 malam karena ramai pengunjung. Biasanya itu terjadi di akhir pekan dan di musim liburan.

Walaupun mempunyai jam kerja yang cukup tertib dan teratur, Pak Sutiman menyatakan bahwa tidak ada sistem manajemen terkendali seperti bagian keuangan, pembelanjaan, dan lain-lain. Semua itu dilakukan dengan spontan karena sudah terbiasa. Meskipun ia mengaku tak ada sistem manajerial di warung tersebut, tapi saya melihat jelas bahwa Pak Wagimin secara tidak sengaja telah membentuk struktur manajemen yang cukup rapi. Hal ini terbukti dari penuturan Pak Sutiman bahwa sampai saat ini ia dipercaya untuk bertanggung jawab terhadap operasional warung induk, sementara Pak Min beserta istrinya mengurus warung cabang. Hal ini menyadarkan saya, bahwa manajemen adalah pelajaran yang sangat praktis dan universal. Buktinya pengusaha yang tak berpendidikan tinggi seperti Pak Min mampu melakukan aksi manajemen dengan caranya sendiri.

Sebelum Pak Sutiman mengakhiri ceritanya, masih ada satu hal yang saya ingin ketahui. Mengenai ekspansi usaha. Apakah Pak Min sudah merasa puas dengan usahanya sekarang? atau ia punya niat untuk membuka cabang lagi? dan ternyata, jawabannya adalah tidak.

Menurut Pak Sutiman, sepertinya sepupunya itu tidak punya rencana untuk membuka cabang lagi. Sejauh ini mereka hanya mengoptimalkan usaha yang sudah ada, sambil terus memperbaiki kekurangan yang ada serta menambah kualitas pelayanan dan kenyamanan warung. Seperti pembelian giant freezer, kulkas soft drink, perbaikan dekorasi warung dengan warna-warna yang lebih eye catching, dan lain-lain.

Saat ini Pak Min malah sedang mencoba peruntungan insting bisnisnya dengan menekuni usaha rumah kontrakan yang masih dalam proses pembangunan, serta menjual gas elpiji kecil-kecilan. Dengan ekspansi usaha seperti ini, bukan mustahil jika suatu saat nanti anggota keluarganya kembali ikut serta bahu-membahu memakmurkan usaha keluarga dengan sistem manajemen kekeluargaan mereka. Peristiwa urbanisasi akan terulang terus, seiring tekad mereka dalam mencari peruntungan rezeki di ibu kota. Ya, seperti halnya saya, anda dan kita semua juga kaum urban, bukan?

8 thoughts on “Warung Bakso Pak Min, Jejak Sukses Manajemen Kekeluargaan

  1. tertarik dgn bisnis bakso…..boleh minta alamat lengkap nya warung bakso pak min…..??? mw coba kerjasama….mks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s